• Tentang Diri

    Nama : Dwi Aryssandhy S
    Phone : 0816597822 / 081336155858
    Status : InsyaALLAH menuju FULL TDA
    "Dicintai-mu dan disegani-nya"

  • Kategori

  • Memori

Visi Misi vs. Uang

by : “Christopher” christopher1710@gmail.com : 11-07-2010

Dalam setiap bisnis, kita mengenal apa yang namanya visi dan misi. Visi dan misi bila ditarik benang merahnya, adalah hal yang positif yang ingin dicapai oleh perusahaan tersebut berikut cara untuk mencapainya.

Sebagaimana kita ketahui, tidak ada visi misi perusahaan yang negative atau bernada `tidak ada apa-apanya’. Visi misi perusahaan seyogyanya adalah hal yang sangat baik, sangat indah, sangat mulia, dan sangat bijak. Semisal: `Menjadi Penyedia Layanan Terbaik yang Mengedepankan Kepentingan Orang Banyak’, atau `Memberikan Alternatif yang Paling Baik untuk Menyehatkan Bangsa’, atau juga `Memberikan Informasi yang Paling Benar dan Bermanfaat bagi Bangsa Indonesia’.

Namun disisi lain perusahaan juga tidak bisa lepas dari issue uang, karena mau tidak mau perusahaan memerlukan uang untuk bisa survive dan lebih lagi memberikan keuntungan bagi para pemegang sahamnya. Tidak ada perusahaan yang bisa bertahan kalau tidak mendapatkan uang dari profitabilitasnya, kecuali LSM dan semacamnya.

Dan ketika dihadapkan pada suatu pilihan, banyak perusahaan yang kemudian mementingkan uangnya, dibandingkan lainnya. Ini kerap dilakukan karena uanglah yang akan mempertahankan hidup perusahaan tersebut, dan uanglah yang akan menyenangkan para pemegang saham / investor.

Sering dalam pengalaman ketika berbisnis, saya dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan visi misi, dengan kepentingan uang semata.

Antara Mempertahankan Visi dengan Meraup Keuntungan

Perusahaan saya bergerak dibidang penyedia makanan berkualitas organik. Yang kami perkenalkan adalah Probio Chicken, Ayam Berkualitas Organik. Untuk dapat menghasilkan ayam berkualitas organik ini, dibutuhkan effort yang tidak mudah sejak awal pemeliharaan ayam, pada saat panen, pembersihan, pemotongan hingga pengemasan dan pendistribusiannya. Semua bagian harus memperhatikan tatacara yang sehat, secara organik, non-kimiawi, dan higienitas tinggi.

Tatacara ini, akan menghasilkan ayam berkualitas organik, atau mudahnya disebut orang sebagai Ayam Organik, dengan kriteria non-kimiawi, sehat, bebas kuman dan rendah kolesterol. Standard kualitas ini, sudah menjadi standar yang dilakukan selama bertahun-tahun, dan sudah menumbuhkan kepercayaan konsumen selama ini. Konsumen akan mempercayai dan berpegang pada `brand’ Probio Chicken untuk mendapatkan kualitas seperti yang dinyatakan lewat brosur, kemasan, website, dll.

`Memberikan yang Terbaik dan Menyehatkan Bangsa’, adalah visi dan misi yang diterapkan oleh perusahaan saya selama ini.

Namun apa yang terjadi, bila produksi kami mengalami penurunan kualitas dan kuantitas? Pada saat demikian, kami tidak dapat mensupply produk pada jumlah yang diminta, dan pada waktu yang sudah ditentukan. Yang terjadi adalah, kami tidak dapat mensupply, dan tidak ada uang yang bisa kami peroleh pada saat itu.

Apakah saya harus mementingkan uang? Karena bisa saja kami memutuskan untuk membeli produk lain dipasaran, dicari yang cukup bagus, dibersihkan dan dipermak supaya `tampak seperti ayam organik’, dikemas dan diberi label. Supply terpenuhi, uang mengalir kembali.

Apakah harus seperti itu?

Ataukah kita harus mengambil jalan merelakan supply yang tertunda, dan berakibat dimarah-marahi pelanggan, plus uang yang batal masuk?

Seperti itulah yang saya ambil sebagai keputusan, bulat dan murni.

Disinilah saya mengambil resiko, untuk kehilangan uang / profit, dengan mengedepankan visi dan misi yang dibalut dengan komitmen dan persistensi. Segala konsekuensi, termasuk uang yang batal masuk, harus diambil demi mempertahankan visi dan misi “Menyehatkan Bangsa” tadi. Bisa dibayangkan, kalau visi misi kami kalahkan dengan keinginan mengambil keuntungan berupa uang semata. Apa yang terjadi?

Tidak Sesuai Harapan

Baru-baru ini, saya bertemu dengan salah satu media dengan team lengkapnya datang berkunjung ke kantor kami. Media ini, tanpa saya perlu menyebutkan namanya, ingin mengangkat issue mengenai Ayam Organik. Dan mereka menghubungi saya karena mereka melihat saya sebagai pemain utama di Ayam Organik.

Sebagaimana sebuah media, tentunya informasi yang sebenar-benarnya lah yang diinginkan untuk disampaikan kepada masyarakat. Team media ini juga menyatakannya berkali-kali, sehingga saya juga menyambut dengan sangat baik komunikasi yang terjadi. Informasi yang paling benar itulah yang saya ungkapkan.

Di akhir wawancara, tanpa ragu-ragu ketika ditanya, saya juga menyebutkan adanya pesaing yang menyerupai namun, tentunya dengan penilaian konsumen, bisa membedakan kualitas. Dan juga dari segi eksistensi bisnis, sangat berbeda. Pada saat Team Media menanyakan siapa pesaing saya dengan lebih detil, saya tidak curiga sedikitpun dan mengatakan yang sebenar-benarnya siapa saja mereka.

Selang beberapa hari setelah wawancara, saya diminta memasang iklan setengah halaman. Dalih yang dinyatakan adalah bahwa tidak boleh ada pemain lain yang memasang iklan mengingat saya adalah pemain utama / market leader. Jadi slot iklan tersebut dikhususkan untuk perusahaan saya. Diskon besar diberikan, dan penyicilan diperbolehkan, mengingat perusahaan saya adalah perusahaan UKM yang bermodal sangat terbatas. Saat itu, saya nyatakan sangat berterima kasih atas perhatian mereka.

Namun kemudian yang terjadi sangat diluar harapan. Saya kaget dan sangat kecewa, ketika tabloid tersebut saya terima. Di covernya terpampang profil pesaing saya yang bermodal jauh lebih besar. Cover itu diberi judul “Unggas Organik”, dan sang pesaing memegang produknya ayam organik!

Ketika saya komplain masalah ini, ternyata dikatakan bahwa Bapak itu ‘membeli’ paket cover termasuk pasang iklan satu halaman, sehingga dengan demikian berhak muncul di halaman utama!

Sedih dan kecewa, dan merasa ditipu, itu yang langsung saya rasakan. Sungguh suatu penjelasan yang saya anggap: “Mengutamakan Profit dibandingkan Mutu Berita”.

Saya juga merasa tertipu karena terlanjur memasang iklan, padahal sebetulnya dipaksakan dari budget. Karena alasan berupa: “Bapak yang Utama, dan slot ini dikhususkan untuk Bapak” terkesan dibumbui dan berupa rayuan agar narasumber terbujuk untuk mengeluarkan uang.

Apalagi, kesimpulan akhir dari jawaban terhadap komplain saya adalah: “Ya Bapak harus mengerti, karena tabloid kami bisa hidup dari iklan seperti yang dipasang oleh Bapak dan Pesaing Bapak…”

Well…

Pelajaran Berharga

Dari pengalaman ini, saya mengambil kesimpulan, bahwa ternyata tidak mudah mencari pihak yang bisa mengedepankan visi misi dibandingkan dengan profit. Dalam hal ini media.

Misi dan Visi, adalah hal yang perlu diperjuangkan dan jauh lebih penting dibandingkan hanya sekedar uang. Dan sepertinya, kita tidak dapat dengan mudah mengajak dan mempercayai pihak lain untuk melakukannya juga.

Istilah: ‘Maju Tak Gentar, Membela Yang Bayar!’ ternyata memang benar adanya. Dan ini ternyata menjadi praktek yang lebih banyak terjadi didunia usaha pada umumnya. Inilah yang amat sangat disayangkan.

‘Indonesia Butuh 4 juta Entrepreneurs’ . Begitu yang digembar-gemborkan sekarang ini, untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih maju dan lebih baik. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan, Indonesia butuh pengusaha / entrepreneur yang ‘berkualitas, bermartabat, memiliki visi dan misi yang mulia serta
bertanggungjawab’ , untuk membangun Bangsa ini.

Bukan sekedar pengusaha yang mementingkan uang dan profit semata.

Kalau bukan kita yang memulainya dari diri sendiri, siapa lagi?

Christopher Emille Jayanata, Ir.

emille@pronic. co.id <mailto:emille@pronic. co.id>
(Mohon maaf untuk pihak-pihak yang merasa disebut, tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak bermaksud menghakimi. Namun tetap nama dan identitas sengaja tidak saya sebutkan, untuk mengedepankan `asaz praduga tak bersalah’. Terima kasih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: