• Tentang Diri

    Nama : Dwi Aryssandhy S
    Phone : 0816597822 / 081336155858
    Status : InsyaALLAH menuju FULL TDA
    "Dicintai-mu dan disegani-nya"

  • Kategori

  • Memori

Orang Beneran, Atau Orang-Orangan?

by : Dadang Kadarusman <dkadarusman@yahoo.com> : 07-03-2010

Hore,

Hari Baru!

Teman-teman.

Jika orang lain memperlakukan anda dengan semena-mena; tentu anda tidak akan tinggal diam. Anda akan melawan. Jika ada orang yang mengancam kepentingan anda; tentu anda akan mempertahankan diri mati-matian. Pendek kata, segala sesuatu yang orang lain lakukan kepada anda akan mendapatkan respon sepadan. Apakah respon anda itu merupakan ’sikap pemberontakan’? Tidak. Itu merupakan gambaran bahwa sebagai manusia, kita memiliki kewenangan dalam menentukan hidup kita sendiri. Dengan itu; kita tidak akan membiarkan orang lain memegang kendali atas hidup kita. Setiap intervensi dari orang lain tentu akan kita hadapi. Tetapi, apakah kita masih memegang kendali atas aspek hidup yang lebih esensial lagi?

Setiap sore selepas sembahyang Ashar, saya berangkat ke sawah untuk mencari rumput bagi domba kami. Sedangkan di musim padi mulai menguning, tugas itu bertambah dengan keharusan untuk mengusir burung-burung liar yang memakan bulir padi di sawah kami. Tahukah anda bagaimana caranya kami mengusir burung-burung itu? Kami menakut-nakuti mereka dengan sesosok tubuh berupa boneka yang terbuat dari jerami. Lalu dibentuk mirip manusia. Dipakaikan baju bekas yang sudah rombeng. Ditutupi topi. Kemudian ditancapkan ditengah sawah dan dihubungkan dengan seutas tali ke sebuah saung pengintaian. Kami menyebut boneka itu sebagai ’bebegig’. Anda menyebutnya sebagai ’orang-orangan’.

Anda tentu tahu karakter orang-orangan. Misalnya; dia tidak pernah menuntut. Tidak pernah membantah. Tidak melawan. Tidak berdebat. Tidak memberontak. Tidak menolak perlakuan apapun yang diterimanya. Pokoknya apapun perlakuan dari orang lain kepadanya, diterimanya dengan apa adanya. Pendek kata; tidak ada mahluk sepasrah orang-orangan. Dia pasrah, rah, rah, rah……

Emh, ngomong-ngomong; bukankah kita baru saja menyebutkan sifat-sifat kita sendiri ya? Saya tahu anda keberatan dengan pernyataan terakhir saya. Kita tidak seperti orang-orangan kok. Karena, kita tidak mungkin membiarkan orang lain mengintervensi hidup kita. Lagi pula, kita kan bukan orang-orangan. Kita ini adalah orang beneran.

Anda benar. Kita adalah orang beneran yang bukan orang-orangan. Kita memiliki jiwa. Dan Tuhan melengkapi kita dengan hasrat, dan keinginan. Tetapi, mari kita uji kembali apakah benar kita masih bertanggungjawab penuh terhadap hidup kita sendiri. Misalnya; jika seseorang menyakit hati kita, apakah kita bisa menetralisir pengaruh buruknya pada diri kita? Kalau kita masih sering sakit hati atas perbuatan buruk orang lain; itu menunjukkan bahwa kita belum benar-benar memegang kendali atas hidup kita sendiri. Kita masih bisa disetir oleh orang lain. Ini adalah sifat orang-orangan. Bukan sikap orang beneran.

Jika di kantor teman-teman kita malas bekerja. Kemudian kita berpikir tak ada gunanya rajin sendirian karena gajinya sama saja. Lantas, kita ikut malas seperti mereka. Maka itu mengindikasikan bahwa kita sudah tidak lagi memegang kendali penuh atas hidup. Ini adalah sifat orang-orangan. Bukan sikap orang beneran.

Jika ditempat kerja anda memperhatikan; semua orang pada sibuk bermain facebook. Padahal dijam itu seharusnya mereka bekerja. Sehingga, pekerjaan mereka harus jeda sesaat setiap kali ’buah beri berwarna hitam’ berbunyi; ’durirang’. Atau, konsentrasi kerja mereka terpecah setiap kali ada pop-up chatting muncul di layar monitor.  Lantas, anda merasa menjadi alien di tempat canggih itu. Lalu, anda mengikuti cara kerja mereka. Tidak lagi peduli bahwa perusahaan telah membayar jam kerja anda; sehingga dengan sepenuh kesadaran anda membiarkan gurita komunikasi tanpa batas itu mengendalikan diri anda juga.

Ehm, bukankah itu adalah sifat orang-orangan? Padahal, kita ini orang beneran. Teman saya yang orang beneran, sengaja sign-out dari account facebooknya pada jam kerja. Kemudian dia sign-in lagi pada jam-jam istirahat dimana dia berhak mengisi waktunya sesuka hati. Meskipun begitu; ternyata nilai dirinya tidak berkurang. Dia tetap bisa menjaga kualitas dirinya. Merawat profesionalisme kerjanya. Tanpa harus kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi. Dan terus mengikuti perkembangan teknologi masa kini.

Kita beruntung telah diciptakan ALLAH menjadi orang beneran. Karena, itu berarti bahwa ALLAH mengijinkan kita untuk memiliki prinsip hidup. Dan berpegang teguh kepada prinsip hidup itu. ALLAH mengijinkan kita untuk mengatakan ’tidak’ kepada arus yang diciptakan dan menghanyutkan manusia lain. Kita boleh mengambil keputusan yang berbeda dengan orang lain. Terlebih lagi, kita boleh mengukur; apakah sesuatu memberikan manfaat kepada kita dan organisasi yang kita wakili, atau tidak. Mengapa demikian? Karena, tidak semua hal yang ada di luar diri kita adalah baik adanya bagi kita. Dan tidak segala perlakuan orang lain kepada kita memberikan dampak positif bagi hidup kita.

Misalnya, ketika orang lain memperlakukan kita dengan cara yang buruk; kita memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari keburuan yang ditimbulkannya. Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mencegah orang itu agar tidak melakukan keburukan kepada kita. Namun, didalam diri kita ada sistem pertahanan yang sudah dirakit oleh ALLAH. Sehingga kita bisa mempertahankan diri. Jadi, kalaupun ada orang yang bersikap buruk kepada kita; ALLAH memberi kita kekuasaan untuk memutuskan apakah kita mengijinkan keburukan itu merusak diri kita, atau sekedar melintas seperti angin lalu saja.

Orang-orangan juga memiliki banyak sikap yang terpuji, misalnya; dia tidak pernah memiliki inisiatif. Lho, tidak memiliki inisiatif kok disebut sebagai sikap terpuji? Oh, tentu saja. Sebab, setiap petani seperti kami sama sekali tidak menginginkan orang-orangan sawah kami memiliki inisiatif.  Bayangkan kalau dia berinisiatif untuk mengejar burung-burung itu? Atau, dia berinisiatif untuk mengusulkan sebuah gagasan brilian kepada kami? Kami tidak akan senang dibuatnya. Malah kami ketakutan karenanya. Sebab, fitrah dari orang-orangan sawah adalah; pasrah kepada titah, perintah dan perlakuan siapapun kepadanya.

Itulah orang-orangan. Mereka memiliki sepenuhnya sikap ’tidak memiliki inisiatif’.  Merekalah pemilik 100% sikap itu. Ehm, bukankah itu berarti bahwa orang beneran sama sekali tidak berhak memiliki sikap ’tidak memiliki inisiatif’? Oh, ya tentu saja. Karena sikap itu belongs to orang-orangan. ALLAH telah memberikannya kepada orang-orangan. Sebagai gantinya, ALLAH menganugerahi orang beneran seperti kita dengan sifat ’mengendalikan hidup’. Melalui akal yang Dia berikan, fitrah kita adalah untuk berpikir. Sehingga, dari kepala kita; muncul banyak inisiatif.

Makanya, agak mengherankan jika di kantor-kantor; banyak orang yang tidak memiliki inisiatif.  Mereka menunggu saja apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh atasan. Jika atasan diam, mereka diam. Anehnya, jika atasannya memerintahkan untuk melakukan ini dan itu; mereka sering mengeluh. Beda sekali dengan orang-orangan. Mereka menerima fitrahnya sebagai ’mahluk yang tidak memiliki inisiatif’. Dan mereka konsekuen dengan akibatnya, yaitu; menerima dengan ikhlas apapun yang dilakukan oleh tuannya. Jika petani menarik tali sekali, dia bergoyang sekali. Jika petani menarik tali seribu kali, dia bergoyang seribu kali. Dan dia, tidak pernah mengatakan; ”mentang-mentang elu atasan gue, elu semena-mena memerintah gue.”

Setiap sore sepulang sekolah, saya bertemu dengan orang-orangan sawah. Setiap kali saya bertemu dengannya, setiap kali pula saya diingatkan bahwa; ada perbedaan kontras antara dirinya dengan saya. Kita para manusia adalah orang beneran. Sedangkan mereka hanyalah orang-orangan. Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa kita memiliki sifat-sifat dalam fitrah orang beneran. Dan memastikan bahwa, kita tidak mirip orang-orangan. Mengapa demikian? Karena, ketika orang-orangan itu  rusak atau usang; maka urusannya berhenti sampai dititik itu. Tetapi, orang beneran seperti kita; jika meninggal kelak, masih memiliki urusan. Karena setelah itu, kita akan berhadapan dengan pertanyaan dari ALLAH; kamu gunakan untuk apakah, seluruh daya hidup yang sudah Aku berikan?

Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman

Learning Facilitator  for “Fundamental Leadership Development” Program

http://www.dadangka darusman. com/

Catatan Kaki:

Perbedaan orang beneran dengan orang-orangan, bukanlah karena mereka terbuat dari jerami; melainkan karena kita mempunyai kesempatan untuk membuat hidup ini memiliki arti.

Satu Tanggapan

  1. hahaha,,,makasih kawan infonya…salam hangat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: