• Tentang Diri

    Nama : Dwi Aryssandhy S
    Phone : 0816597822 / 081336155858
    Status : InsyaALLAH menuju FULL TDA
    "Dicintai-mu dan disegani-nya"

  • Kategori

  • Memori

ISLAM tontonan, MASYA ALLAH

by luki (3 Okt ’06)

Seorang Ulama tua, hanya bisa prihatin, lalu bermunajat kepada Allah SWT. ”

Selama bulan suci Ramadlan lalu, ada fenomena unik yang sangat menjemukan dan memuakkan. Pada sepertiga malam terakhir, biasanya ummat Islam sangat khusyu’ beribadah, memohon ampunan, bertasbih, berdzikir dalam Qiyamullail serta tadarrus. Tetapi lepas tengah malam, jutaan ummat Islam bangun, bukan untuk mengahadap Tuhan, tetapi untuk menghadap TV dengan berbagai pilihan channel acara Ramadlan. TV telah menjadi berhala baru bagi mereka, karena sesungguhnya bukan mereka mendalami agama atau mendengarkan ceramah para Ustadznya, namun hanya ingin menonton entertainment dalam jubah  agama. Bahkan acara paling bermutu dari kajian Tafsir Al-Qur’an Prof Quraish  Shihab, rating penontonnya paling rendah, padahal acara tersebut paling bermutu dari segi kualitasnya dibanding acara-acara lainnya.

Apakah Islam di negeri ini sudah banyak digiring dan ditentukan oleh para produser TV dan media massa? Bukan ditentukan alurnya oleh para Ulama? Apakah Islam harus mengikuti jalannya industri kapitalisme media, kemudian membangun imaje bahwa life style Islam adalah sebagaimana sosok-sosok di media itu? Politik media macam apakah yang telah merangsek ajaran Islam dan cakrawala Islam di negeri ini? Siapakah yang menjadi Imam ummat? Ulama? Artis? Mubaligh Panggungan? Ustadz Teaterikal? Selebritis?

Merinding bulu kudhuk kita, ketika mendengar dan melihat fakta tontonan agama di media massa. Tetapi memang, agama paling empuk, paling ramai di pasar dunia, paling mudah untuk dimanupulasi, paling gampang untuk dagangan, paling kuat untuk dijadikan legitimasi apa pun, hingga cap halal haram untuk sebuah produk.

Ini semua salah siapa? Apakah ummat mengalami kebosanan, kejenuhan, kehilangan simpati kepada para Ulamanya, para Ustadznya? Lalu beralih pada  “Islam Hiburan, Islam Tontonan, Islam Tangisan, Islam Lawakan, Islam
Horor, Islam Ruqyahan, Islam Kuburan, Islam Blatungan, Islam?” entah apalagi namanya, yang mengekploitir emosi penonton, untuk sebuah industri
ketakutan dan kegembiraan.

Ataukah para kapitalis media sangat gemes dengan potensi empuk agama untuk dijadikan mesin uang? Barangkali saling kerjasama antara para ustadznya untuk saling menguntungkan melalui bisnis agama ini?

Inilah yang disinggung sejak lama oleh Al-Ghazaly, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan zaman semacam ini pernah diprediksi Kanjeng Nabi SAW.

“Nafsu dibalik kemaksiatan itu sudah jelas. Tetapi nafsu dibalik ketaatan (ibadah) itu tersembunyi. Terapinya sangat sulit, karena bedanya sangat tipis,” kata Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam al-Hikam.  Inilah yang pernah diperingatkan secara keras oleh Abul Hasan  asy-Syadzily, seorang Sulthan Auliya di zamannya, ketika menafsiri ayat,  “Rasul tidak pernah berkata dengan dorongan nafsu, melainkan karena wahyu  yang diwahyukan?” maka, siapa pun jangan merasa senang manakala kata dan ucapannya di “iya”kan oleh pendengar, tetapi senanglah kalian kalau Allah meng”iya”kan hatimu.

Jika seorang penceramah, seorang Ustadz bicara di depan publik, dan publik menyambut dengan rasa simpati atas apa yang dikatakan Ustadz, lalu  sang Ustadz gembira karena pandangannya mendapat dukungan, berarti sang Ustadz itu berbicara karena dorongan hawa nafsunya. Sang ustadz bukan gembira, karena Allah membenarkan kata-katanya, tetapi gembira karena pendengar membenarkan ucapannya.

Seluruh gerakan “Islam Tontonan” hanya mengekploitasi simpati penonton, pembenaran pemirsa, kesenangan pembaca, kenikmatan penyimak. Nafsu penonton, penyimak dan pemirsa, adalah ladang bagi industri komunikasi, apalagi agama, yang dianut oleh semua orang.

Kita tidak usah terlalu menyudutkan media, karena memang media itu industri, yang ingin mengeruk keuntungan yang besar. Mari kita tengok para pelaku, para Ustadz, para sosok yang mewakili Islam disitu. Apakah mereka tidak risih dijadikan tontonan ummat? Dijadikan bahan tawaan ummat? Dijadikan pelampiasan emosi semu dari kegersangan ummat? Apakah mereka
tidak  pernah mendengar jika umat memunculkan sejumlah kata-kata, “Ayok kita nonton  Ustadz A?. Ayuk kita nonton Aa’ B, ayuk kita lihat Ustadz J, ?” Sama sekali  tidak ada bau tuntunan dari kata yang terucap. Lalu sekian program dieksploitasi. Misalnya Ustadz A atau B atau J, bisa dijual segi kehidupan  sehari-harinya, keluarganya, seni suaranya, deklamasinya, airmatanya, dan  sebagainya.

Islam Tontonan juga telah memenuhi judul-judul sinetron. Seperti Rahasia Ilahi, Hidayah, Sakaratul Maut, Takdir Ilahi, Taubat, Misteri Dua Dunia, yang hampir mengaduk-aduk dunia kuburan untuk industri sineas ini.  Islam begitu memuakkan dimata anak-anak, begitu mengerikan dan horror
dimata orang luar, sedemikian memuntahkan dimata ummat sendiri. Lalu bermunculan  Nama-nama Allah untuk dijadikan industri sineas, seperti Subhanallah, Allahu Akbar, Astaghfirullah? .dll.

Lalu Ruqyah, okh sangat memilukan. Apakah pemahaman ruqyah sebegitu dangkal seperti di media dan TV itu? Coba pemirsa melihat bagaimana anda menatap para peruqyah itu, apakah ada Cahaya Ilahi yang muncul dari keikhlasan jiwanya? Apakah Islami seperti tontonan Ruqyah itu? Itu Ruqyah atau Riya’ah?

Islam Tontonan juga telah membangun imej, bahwa menjadi Ustadz, Da?i, Mubaligh, adalah karir dan professi, lalu muncullah perlombaan jadi Da?i, Pildacil, jangan-jangan ada lomba jadi Kyai…

Gara-gara Formalisme?
Menurut telaah, kenapa Islam Tontonan ini muncul begitu kuat? Sejak kata-kata Islam phobia mulai menyingkir di negeri ini, muncullah
Islamisasi di berbagai bidang dalam landskap dan mosaik keseharian, saling tarik-menarik antara kepentingan politik, kepentingan semangat agama, dan kebodohan akan agama itu sendiri yang merajai manusia-manusia kota yang konon lebih senang disebut manusia terpelajar.

Semangat formalisme Islam, membuat ummat Islam tergila-gila dengan lambang serba Islam, serba Syariat, jargon serba ummat, disatu sisi lebih merasa terpuaskan oleh rasa bangga, bila Islam ditonton oleh banyak orang,  “Inilah Islam!”. Tetapi, kita semua tahu, karena “Inilah Islam!” terorisme ada dimana-mana, Islam garis keras memanfaatkan momentum maksiat untuk bisa  eksis di media massa. Kebiadaban atas nama Islam macam mana lagi ini? Bukankah kita hanya memetik kemunafikan demi kemunafikan ketika meneriakkan Islam sementara hati kita kosong, hati kita kering, jiwa kita sendiri yang  sangat menjijikkan untuk divisualkan? Islam Tontonan adalah salah satu dari sekian teater Akhir Zaman Edan. Karena Islam Tontonan adalah wujud lain dari Riya’ yang maniak, Riya’, yang didukung teknologi, Riya’ yang dibungkus nama-nama Tuhan, Riya’ yang menumpuk sampah kebanggaan, Riya’ yang membangun lapisan kebodohan, Riya’ yang menghancurkan agama dari pahalanya dari dalam.  Islam Tontonan hanyalah harum di permukaan, anyir dan membusuk dari batin di kedalaman. Islam Tontonan sesungguhnya adalah sampah, yang muncul dari limbah  sejarah klarifikasi ad-Din al-Haq. Allah mengumpulkan limbah ini, agar mudah dibersihkan dari jiwa ummat.

Islam tontonan sebagaimana dalam Al-Qur’an, “adalah mereka yang tersesat perjalanan hidupnya di dunia dan menduga apa yang mereka lakukan itu adalah perilaku yang baik.” (Al-Kahfi)

Itulah tema paling mutakhir abad kita, Islam di tengah-tengah kelemahan para Ulamanya, para Ustadznya, para Kyainya, bertemu dengan kebodohan dan ketololan para ummat yang mengikutinya, lalu dijadikan industri empuk tontonan para kapitalisnya, Entertainment Nafsu Agama.Masya Allah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: