• Tentang Diri

    Nama : Dwi Aryssandhy S
    Phone : 0816597822 / 081336155858
    Status : InsyaALLAH menuju FULL TDA
    "Dicintai-mu dan disegani-nya"

  • Kategori

  • Memori

Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa

By : Muh Musrofi mmrofi@gmail.com : 31-01-2010

Anak itu, namanya Aura (bukan Aura Kasih lho, he..he..). Dia kalau diajar gurunya, lalu ditanya, anak itu tidak bisa menjawab. Padahal duduknya di depan. Nilai-nilainya 5. Si Ibu sama si Aura dipanggil oleh gurunya. Bahwa Aura terkena “warning”: kemungkinan besar tidak naik kelas. Dari kelas IV ke kelas V. Sampai-sampai si guru, mengatakan bahwa si Aura sepertinya menyimpan masalah di rumah. (Wah, jadi gaswat ya, ketika analisis sampai ke masalah rumah tangga.
Kan jadi tambah susah si ibu tadi).

Ibunya, merasa sangat bertanggungjawab atas anak itu. Mengapa? Karena ternyata dulu, si suami tidak setuju kalau anaknya disekolahkan di tempat dimana ia sekolah sekarang. Jadi si ibu selalu disalahkan sama si suami.

Si ibu ini rekan isteri saya. Lalu ikut TC (Talent Coaching).  Selesai TC, si ibu berkesimpulan bahwa si anak terdominasi VISUAL. Hasil TC sudah sangat memuaskan bagi si ibu. Kemuidan si ibu itu mengerjakan kuesioner VAK di rumah.

Rupanya, ia sangat serius dalam mengisi kuesioner tersebut. Keakuratan hasil kuesioner sangat tergantung dengan kesesuaian jawaban dengan
pertanyaan di kuesioner. Karena si ibu serius dalam mengisi kuesioner itu, hasilnya jadi akurat.

Aura terdominasi gaya belajar VISUAL. Bolehlah disebut EKSTREM  VISUAL. Kondisi yang ekstrem VISUAL ini menyebabkan anak jadi bingung (bisa sampai “gugup”, gelapan) kalau dia diajar dengan dominasi bahasa lisan. Rupanya si ibu dan si guru, lebih banyak menggunakan bahasa lisan dari pada tulisan.

Setelah si ibu mendapatkan hasil kuesioner, si ibu tadi benar-benar secara detail mencoba menjalankan apa yang ada di hasil itu.
Ditambah si ibu juga sering diskusi dengan isteri saya. (Kebetulan anak saya juga VISUAL).

Si Ibu tadi, meniru cara anak saya belajar. Anak saya belajar dengan menulis di lantai dengan spidol warna-warni. Ia diam kalau belajar. Ia malah kacau bila diajari isteri saya, dimana isteri saya agak banyak bicara.

Si Aura juga diajari seperti anak saya itu. Ibu Aura berhenti tidak mengajari Aura dengan cara lisan. Tetapi dengan tulisan.
Artinya si ibu mengajari anak sesuai dengan gaya belajar anak. (Biasanya, karena belum tahu, si ibu atau si guru mengajari anak sesuai gaya belajar si ibu atau si guru. Tidak “match” antara gaya belajar anak dengan gaya belajar si ibu atau si guru.
Si ibu atau si gurulah yang HARUS MENYESUAIKAN DIRI dengan gaya belajar anak. Tidak sebaliknya. Sayang, SEBAGIAN BESAR KEJADIAN DI KELAS DAN DI RUMAH anaklah yang harus menyesuaikan diri dengan gaya mengajar si guru atau si ibu).

Alhamdulillaah, ALLAH SWT memberikan kemudahan, memberikan kefahaman kepada si anak (yang memudahkan kefahaman terhadap ilmu, dan yang menambah ilmu hanyalah ALLAH. Maka saya ingat, sewaktu SD, guru SD kami selalu mengajari kami untuk berdoa “robbi zitnii ‘ima, war zuqnii fahmaa..aaamiiin).

Anak jadi faham rupanya dengan cara-cara baru tadi. Nilainya yang 5, setelah ulangan lagi jadi 9! This is a miracle! Benar kali ya, jika orang terfokus pada potensi kekuatannya, pada potensi dirinya, ia akan melejit, tidak tumbuh linier, tetapi tumbuh berlipat, eksponential growth, insya Allah.

Anak yang semula nampak sedih ketika berangkat sekolah, jadi semangat. Ia pamit ibunya ke sekolah dengan riang sekarang, dengan senyum-senyum, sembari berkata, “Ibu doakan aku ya, biar berhasil.”

Allah SWT melimpahkan kefahaman kepada si anak didik, ketika:
1) Dikembalikan pendidikan ke orang tua, terutama ke ibu. Mengapa dikembalikan ke ibu atau orang tua? Ada keikhlasan, ada doa yang sampai ke hati,
ketika ibu atau orang tua mengendalikan pendidikan si anak. Dan ketika Ibu atau orang tua bedoa untuk anaknya, ALLAH SWT, insya Allah akan mengabulkannya.

2) Ibu atau orang tua memiliki paradigma “husnudzon”, fokus pada hal-hal positif ke si anak, fokus pada potensi kekuatan.

3) Ibu mengetahui cara mengajari anak, yakni gaya mengajar ibu disesuaikan dengan gaya belajar anak. VAK bukan ilmu baru (ditemukan O’Brien
tahun 1985, tetapi sangat langka orang yang mau menerapkan ilmu ini secara DETAIL dan KONSISTEN. Insya Allah, cukup detail, dan bisa dijadikan panduan bagi IBU atau orang tua dalam mengajari anak.

Alhamdulillaah..mudah-mudahan ALLAH SWT selalu melimpahkan ampunan, rahmat, dan ridlo-Nya kepada kita semua…aaamiiin

Wassalaamu’alaikum,

About these ads

Satu Tanggapan

  1. membaca seluruh blog, cukup bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: